Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Sunday, October 9, 2011

Seorang Anak Tersenyum Hanya Dalam Kebahagiaan Sejati


Meski saya belum berkeluarga, namun saya sadar, menjadi orang tua adalah pekerjaan paling sulit dan, jelas, sebuah pekerjaan yang spektakuler. Saya terlalu sering lupa tentang hal yang paling penting dalam hidup. Saya cenderung seperti generasi yang sedih di kota-kota besar, efek dari ketegangan saraf, kegairahan sintetis, kebisingan yang kasar, tekanan yang provokatif, bagai seikat saraf yang terlalu eksplosif, melangkah bolak-balik, memukul meja, suara bernada tinggi, akibatnya semua yang saya sentuh berjalan keliru.

Dari waktu ke waktu, anak-anak tidak hidup di dunia yang sama dengan orang dewasa. Saya tidak pernah melupakan sihir di mata mereka, dan mereka mampu mengangkut saya kembali ke masa kecil. Ketika seorang anak meneteskan air mata karena bahagia, itulah mimpi yang menjadi kenyataan, kebahagiaan sejati yang tidak bisa ditukar dengan uang. Wajah mereka, senyumnya pada hari itu, akan menjadi kenangan yang tak terlupakan, dan saya yakin anda pasti bangga pada mereka. 

Hehe, demikianlah pidato singkat saya hari ini, semoga anda lebih aktif dan berpartisipasi dalam kehidupan anak anda, maklumlah, karena saya sedang ikut menangis saat menyaksikan video kebahagiaan seorang anak dihari ulang tahunnya, saat membuka kado dari orangtuanya: 




Sunday, June 26, 2011

Darah Anda Dalam Agama, Halal Jika...



Mayoritas agama memerintahkan umatnya agar tidak mengkritisi ajarannya, dan lebih jauh memerintahkan untuk melawan siapa saja yang berusaha mengkritik mereka. Inkuisisi eropa abad pertengahan yang berusaha untuk menghancurkan agama lain dan membungkam para ilmuwan yang temuannya bertentangan dengan dogma gereja adalah contoh yang paling jelas, namun ada banyak agama yang bertindak serupa: contohnya beberapa negara muslim kini menyerupai negara teokrasi yang represif, dimana aksi sensor merajalela dan hukuman pengasingan dan kematian dikeluarkan terhadap penulis yang karya-karyanya dianggap sebagai penghujatan terhadap Islam.

Bahkan di Amerika Serikat, reaksi yang timbul adalah banjir ancaman, boikot dan bahkan bahaya fisik yang timbul secara langsung dalam menanggapi setiap pendapat yang dianggap berbeda dari dogma yang berlaku. Tujuannya untuk menutup peluang para kafir mendirikan platform dalam lembaga-lembaga publik utama. Jelas, banyak penganut agama yang memaklumi pembungkaman suara yang isinya tidak sepaham dengan mereka.

Melalui sejarah, agama telah dimanfaatkan sebagai pembenaran atas kejahatan kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya.  Sebagai contoh perang salib yang menyebabkan benturan berdarah dua agama, penyiksaan dan eksekusi ribuan orang yang tak bersalah; aksi pembantaian oleh serdadu Nazi yang berlindung dibalik perisai "Tuhan Bersama Kita"; kemudian aksi terorisme yang dilakukan fundamentalis muslim; serta pendirian rezim tiran teokrasi.

Meskipun secara teori semua agama biasanya menjunjung toleransi dan kebebasan terhadap  minoritas, bahkan memberi kesempatan yang sama bagi agama lain untuk mendapatkan kekuasaan sipil, namun dalam prakteknya diam-diam mereka memaksa pemeluknya untuk mendukung mereka dan menindas keyakinan lain.

Disatu sisi apologis religius menggunakan dogma untuk menegaskan visi mereka yang universal secara meyakinkan, tapi bukanlah hal yang mengejutkan jika ditemukan doktrin-doktrin yang tak bisa diterima secara moral dalam misi mereka. Mereka diserang, dan kebiadaban hanyalah respon pembelaan diri, namun anehnya apologi ini muncul dikedua belah pihak.

Jika agama benar-benar diilhami secara moral oleh kebaikan ilahiah, sukar dipercaya melihat mereka dikotori begitu banyak kisah pertumpahan darah, kekerasan dan penyiksaan antar agama dibawah satu keilahian, yang seharusnya tak perlu mereka bela. Andai saja, ternyata ajaran agama itu cuma dikonsep oleh manusia, dizaman manusia memahami moral masih secara primitif, tidak mengherankan kalau doktrin ajarannya mengandung kontradiksi yang tidak bisa diterima zaman berikutnya.

Thursday, June 23, 2011

Memoar 9 Tahun di Penjara Indonesia, Antara Nyawa, Martabat dan Sebatang Rokok


Tak diragukan, penjara telah ada selama ribuan tahun dan akan berdiri sampai akhir masa. Tanpa ranjang, lantai kotor dan mungkin tempat yang mengerikan bagi manusia. Tapi bukan itu esensi horor yg dirasakan narapidana, melainkan tak seorangpun menatap mereka secara manusiawi, ketika mereka menangis atau merintih, orang akan tertawa, bisa jadi mereka mengucapkan selamat tinggal pada alasan mengapa harus hidup.

Semalam saya kebetulan menyaksikan sebuah tayangan di National Geographic Channel bertajuk Lockup Abroad: Busted in Bali. Kisah seorang warga negara Australia (Christopher V. Parnell) yang lama menetap di Kathmandu, Nepal, pada tahun 1985 berlibur bersama keluarganya ke Bali. Singkat cerita dia terjebak dalam kasus penyelundupan narkoba yang mengakibatkan dia harus mendekam dipenjara Indonesia dengan vonis hukuman seumur hidup. Bukan detil kasusnya yang membuat saya tertarik mengambil handycam dan merekam tayangan TV itu, tapi karena itu adalah dokumenter kisah nyata dengan latar pengambilan gambar penjara-penjara Indonesia, beserta aktivitas kesehariannya yang sangat mendekati real dan cukup akurat.

Diantara sekian banyak serial Lockup abroad atau banged abroad yang lain, baru kali ini saya menyaksikan serial yang begitu sadis, begitu menyentuh lubuk terdalam kemanusiaan, potret nyawa manusia yang harganya semurah sepiring nasi sebatang rokok. Dan yang membuat seseorang tetap bertahan hidup di penjara Indonesia, hanya sebuah batas tipis antara kegilaan dan tekad baja.

Chris Parnell yang mendekam selama 9 tahun, berpindah-pindah penjara antara Bali dan Malang, 3 tahun ia habiskan dalam sel isolasi. Lewat buku yang dikarangnya "The Sunday Smuggler" menceritakan pengalaman dramatis menghadapi sistem hukum yang korup, kekerasan dibalik terali yang tak kenal ampun, pertumpahan darah yang jadi menu sehari-hari narapidana, pelecehan martabat manusia, berbanding terbalik dengan predikat "lembaga pemasyarakatan". Realitas yang harus dijalani seorang narapidana, terlepas dari kejahatan yang mereka lakukan, bukan merubah mereka kearah yang lebih baik, malah mereka sangat berpeluang kehilangan harga diri dan rasa belas kasih terhadap manusia, menjadi lebih agresif selepas dari "Lembaga Pemasyarakatan". Mungkin lewat tayangan berikut ini, bisa lebih banyak hikmah yang kita dapatkan..


Tuesday, June 7, 2011

EA Terobsesi Statistik, Para Centeng Blogernas Forum Stabil di Orbit



Fantasi blogernas untuk mendominasi dunia esek-esek maya yang prestisius, harus menghadapi kenyataan bercucuran air mata menyaksikan blog andalannya terjun ke lembah degradasi. Sebaliknya, anak tirinya hasil perkimpoian haram dengan pelacur seksi indonezilla, blogernas forum, makin menunjukkan kelas sebagai spesial engine 500 cc, tangguh disegala medan, tabah memintal nasibnya ditengah amuk jutaan piranha amazon.

Status Juara bukanlah resultat, melainkan sikap, setidaknya itulah ungkapan yang saya peroleh dari film jadul Sylvester Stallone: The Race. Menikmati balapan lima puluh putaran tanpa memikirkan hasil adalah prestasi pamungkas seorang pembalap. Pengalaman mengajarkan betapapun hancurnya seseorang, matahari tetap bersinar dan dunia tetap berputar dengan riang gembira setiap hari, jadi apa gunanya meratap?

Jutaan orang berjudi dipasar modal, melambung kelantai seratus lalu tersungkur karam dihalaman parkir, esoknya investor masih bersiul dikedai kopi. Tidak ada yang aneh, karena statistik seperti mesin jackpot, tapi dewa judi sejati adalah seorang yang mampu berpikir sehat terhadap kemenangan dan kekalahan. Tidak ada doa dan pengharapan, melainkan siap menghadapi segala sesuatu.

Sunday, June 5, 2011

Subhanallah, Teladan Kesabaran Seorang Mujahid



Seorang pria yang tabah, dia sudah mengalami semua kemalangan hidup, namun belum pernah barang sekalipun dia mengeluh. Dia sudah menikah, dan istrinya lari dengan orang upahannya. Dia punya seorang anak perempuan, dan anak perempuannya ditipu oleh seorang bajingan. Dia punya seorang anak laki-laki dan anak laki-lakinya tewas dalam kecelakaan. Api membakar gudangnya, angin puyuh menerbangkan rumahnya, banjir membinasakan tanaman pangannya, dan bank menutup angsurannya, menyita ladangnya. Namun pada kedatangan setiap kemalanganbaru dia berlutut dan memanjatkan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa untuk belas kasihan-Nya yang tanpa batas.

Beberapa waktu kemudian, dalam keadaan tidak punya uang satu sen pun, tetapi masih tunduk kepada perintah dari atas, akhirnya dia terdampar di panti penampungan orang miskin. Pada suatu hari seorang mandor mengirimkannya keluar untuk membajak ladang kedele. Hujan badai datang tetapi kelihatannya akan berlalu, tiba-tiba petir menyambar dari langit. Petir melelehkan bajak, menelanjanginya hampir dari semua pakaiannya, membakar habis jenggotnya, dan memberi cap punggungnya dengan huruf singkatan namanya, dan melemparkannya ke seberang pagar kawat berduri.

Setelah dia sadarkan diri dari pingsannya, perlahan-lahan dia bangkit dan berlutut,menjalin kedua tangannya dan mengangkat mukanya ke arah langit. Kemudian untuk pertama kalinya, dia mengutarakan dirinya: "terima kasih Tuhan," katanya, "ini tidak pernah mereka buat dalam sinetron, tapi sekarang saya tahu inilah yang dinamakan mati konyol"

Kota Penyesalan



Sebenarnya aku tidak berencana kemana mana tahun ini, namun toh aku berkemas kemas juga. Dan akupun berangkat, dgn penuh penyesalan. Itu adalah satu lagi perjalanan yg aku sesali.

Aku pesan tiket penerbangan 'andai aku punya'. Aku tidak memasukkan bagasiku dan aku harus menyeretnya jauh sekali dibandara kota penyesalan ini. Dan aku dapat melihat orang-orang dari seluruh dunia disana bersamaku, tertatih tatih dengan beban bagasinya masing-masing.

Aku naik taksi ke hotel 'Tak Ada Pilihan Lain', dimana sang supir mengemudikan mobilnya mundur, terus menengok kebelakang. Dan disana aku temukan ruang pesta dimana acaraku akan diadakan: 'Pesta Tahunan Mengasihani Diri Sendiri'. Ketika aku check-in, aku melihat bahwa teman lamaku ada dalam daftar tamu: 'kesempatan yg hilang', 'semua hari kemarin', 'harapan yg sirna', 'impian yg kandas', 'jangan sakiti aku', 'aku tak tahan lagi'.

Dan tentu, jam demi jam hiburan akan disuguhkan oleh tukang cerita yg sudah terkenal, yaitu si 'Semua Salah Mereka'

Ketika aku bersiap siap tidur, aku sadar bahwa ada satu orang yg berkuasa untuk menyuruh semua orang itu pulang dan membubarkan pestanya: yaitu aku sendiri. Aku tinggal kembali ke masa sekarang dan menyambut hari yang baru...!

Wednesday, June 1, 2011

Keuangan Yang Maha Esa, Sebuah Konsep ilahi Postmodern


Dinegara Indonezilla yang terkenal materialistis, dasar negara disusun oleh para begawan moneter yang kesohor. berbeda dengan tetangganya indonesia yang terkenal religius, dasar negara disusun pemimpin agama yang bijaksana.

Sebagai dasar negara, Pancasial menjadi doktrin paling keramat di indonezilla, premis dari segala sumber hukum yang ujung-ujungnya duit. Konsep ini bukan lelucon, tapi memang by design dari eksperimen rasional yang sangat panjang. dimulai sejak transisi revolusi industri dulu, dimana waktu itu baru tercipta kelas pekerja, struktur pasar, dan ekonomi kapital.

Founding father Indonezilla mempunyai visi yang jauh dibanding negara tetangga, mereka telah meramalkan bahwa pada saatnya nanti, struktur sosial akan  mengalami transisi dari:
- perwakilan menjadi simulasi
- kedalaman dan integritas menjadi permukaan dan batas
- reproduksi menjadi replikasi
- buruh menjadi robot
- pikiran menjadi intelejensi buatan (AI)
- organik menjadi sibernetik
- seks menjadi rekayasa genetik
Segala transisi ini mutlak dibutuhkan Keuangan, UANG! unsur lain tidak ada, dan tidak perlu ribuan halaman kertas penelitian dan tabel untuk membuktikan teori sederhana itu. Singkat, Tiba-tiba dan Keras! itulah semangat yang terkandung didalamnya.

Atas dasar itulah, founding father indonezilla merumuskan sebuah dasar negara: PANCASIAL:
1. Keuangan Yang Maha Esa
2. Keuangan Yang Maha Esa
3. Keuangan Yang Maha Esa
4. Keuangan Yang Maha Esa
5. Keuangan Yang Maha Esa

Kenapa diulang sampai lima kali? karena indonezilla tidak mau repot bikin negara, gitu aja kok repot!

Tuesday, May 31, 2011

Inilah Bocoran Hasil Otopsi Sebuah Gerakan Teroris (2)

 
 
Pada postingan sebelumnya,Inilah Bocoran Hasil Otopsi Sebuah Gerakan Teroris, Telah dijelaskan sedikit tentang perbedaan gembong teroris dan rekrutannya. Secara lebih jauh saya ingin membahas mengapa lapisan bawah organisasi teror dihuni orang-orang fanatik. Banyak orang dengan mudah menganggap kaum yang sangat fanatik itu hanyalah orang-orang yang kurang matang dan kurang seimbang, yang secara spontan terseret oleh zeitgeist, jiwa zaman, yang dijunjung tinggi sampai suatu ekstrim yang mencelakakan. Mereka adalah “orang-orang romantik kelas teri” kelompok ini ternyata mewakili berbagai filosofi yang penuh kontradiksi dan kacau sehingga sulitlah memandang mereka sebagai perwujudan dari suatu kebijaksanaan atau tujuan tertentu. beberapa diantaranya adalah orang yang fanatik beragama, beberapa lagi ultra nasionalis, beberapa lagi sekedar "anti otoritas" atau "anti imperialis". Apalagi mereka memandang perbedaan ideologi mereka sangat serius sehingga disamping melakukan teror terhadap pemerintahan, mereka pun menghabiskan waktu untuk mengejar-ngejar, menembaki dan menghancurkan sesama kelompok lain yang tak sepaham.

para teroris sendiri - tentunya pada tingkat rendah tetapi kadang-kadang juga pada tingkat atas - seringkali tidak menyadari seberapa jauh mereka itu dijadikan alat politik. Atau ironisnya ada yang bahkan terbuai oleh hayalan bahwa merekalah yang menunggangi untuk tujuan mereka sendiri.

Tentu saja teroris tidaklah menciptakan segala kesulitan dan ketegangan didunia. mereka hanya melihat dan menggunakannya. tidak ada luka yang dibiarkan sembuh, bahkan akan mereka buat semakin parah. kalau ada persengketaan, mereka akan mengobarkannya jadi perang. kalau ada suatu cita-cita perjuangan, dibenarkan atau tidak, mereka akan menunggu sampai seoramg fanatik dan bersifat ekstrim muncul, dan mereka akan memberinya senjata. Kalau mereka menghimpun dan melatih ekstrimis keras dalam jumlah cukup besar, orang-orang seperti ini dapat bekerja efektif tanpa instruksi mendetil. Dengan semboyan: menghukum satu orang, membuat takut seratus orang, huru hara pun terjadi.

Saturday, May 28, 2011

Inilah Bocoran Hasil Otopsi Sebuah Gerakan Teroris



Terorisme itu seperti monster, binatang ganas yang menyalahi kelaziman, tetapi untung hanya berkepala selusin, mungkin dapat dipenggal satu persatu sampai habis. Apa tidak akan tumbuh kepala baru? Bisa saja, tentu, tapi untuk tumbuh baru perlu waktu.

Yang membuat lingkaran teroris kelihatan misterius karena mereka tidak suka ribut, tidak rewel, tidak ada rundingan bertele-tele, tidak berandai-andai tentang pro-kontra yang biasanya berasal dari sifat penakut. Dan Ketika keluar dari sarangnya mereka langsung membuat huru hara besar dengan aksi kamikaze


Gerakan terorisme yang mungkin nampak meresap ke segala lapisan dapat diciutkan menjadi beberapa sumber yang dapat dikenali dengan mudah. Yang jelas ialah bahwa gerakan itu melibatkan orang relatif sedikit yang sama sekali tergantung pada beberapa gelintir pemimpin dan pengatur. Mereka bergerak dibawah tanah. Mereka terpaksa bergerak dari berbagai basis yang berpindah-pindah dibelakang garis perlindungan musuh. Kerahasiaan dan ketersembunyian merupakan kekuatan mereka, tetapi juga merupakan kelemahan mereka. Tidak seperti angkatan bersenjata, orang-orang itu tidak mempunyai kekuatan atau hidup mereka sendiri. Mereka harus secara rahasia diberi segala sesuatu yang diperlukan untuk tetap bekerja: uang, senjata, surat-surat penting, tempat bersembunyi, latihan dan anggota-anggota baru. Kalau salah satu saja mata rantai ini disingkirkan, seluruh jaringan akan menurun daya hidupnya.

Gembong teroris adalah orang yang teliti, terpercaya dan tenang bagaikan mesin yang baik buatannya. Tidak boleh menyimpan perasaan senang atau puas dengan pekerjaannya. Prestasi kerjanya tak boleh tergantung pada "perasaannya" mengenai tugas itu, meski demikian ia tidak boleh bertindak tolol atau tanpa kepekaan sebab dengan cara itu, dia tidak memiliki daya reka. Ia haruslah seorang patriot yang penuh semangat tetapi tanpa kefanatikan. Sebaliknya teroris level terbawah adalah seorang fanatik dan orang fanatik kebanyakan tidak pandai dan tidak ahli.


Kalau satu gembong teroris disingkirkan, mungkin diperlukan satu dua tahun untuk munculnya tokoh teroris baru. Sementara itu jaringannya yang lama terlanjur berantakan. Mungkin diperlukan satu dua tahun lagi bagi si tokoh baru itu untuk membangun jaringan kembali. Dalam berbuat begitu, dia tidak tersembunyi seratus persen. Kalau beruntung, kita bisa mengenali dia dan menyingkirkannya sebelum sempat berbuat banyak. Sementara itu kita telah menyelamatkan jiwa ratusan orang tak bersalah. Lagi pula, teroris yang hebat seperti apapun ibarat korek api. Dia memerlukan satu tong mesiu untuk menyulut ledakan berarti.

baca juga  :Inilah Bocoran Hasil Otopsi Sebuah Gerakan Teroris (2)

Syndrom Muslim Paranoid: Sekali Kafir Tetap Kafir !



Tak ada relativitas dalam kamus muslim paranoid, yang ada hanya pihak yang benar atau pihak yang kafir. Kebenaran itu mutlak, tidak bisa tercampur dengan kekafiran, bahkan untuk hal paling sepele pun, seperti mengucapkan selamat hari raya agama lain. Diluar mereka, halal darahnya tumpah. pasti, tidak ada alibi untuk itu.

Tapi ada satu masalah, betapapun baik moralnya, bagaimanapun solehnya, setiap orang muslim paranoid pasti tertangkap basah bekolaborasi menolong perusahaan kafir. pasti, tidak ada alibi untuk itu.

Mereka mengumandangkan azan dengan loudspeaker kafir, membaca al qur'an yang dicetak diatas kertas dari pabrik kafir, membayar sedekah dengan mata uang cetakan pemerintah kafir, naik haji dengan pesawat made in kafir, masih sangat banyak lagi. Apa sebabnya? karena kafir punya otak dan akalnya berfungsi.

Bukan mendramatisir, tapi saya mencurigai motif psikologis orang seperti ini, secara historis berasal dari silsilah kaum yang pernah terlibat dalam aksi pertumpahan darah, kebencian dan dendam kesumat, melebihi apa yang dilakukan para diktator ataupun perusahaan kapitalis itu.